Jumat, 27 April 2012

Ada Gula Ada Semut Ada Lebah Ada MAdu


 Kunjungan kenegaraan PM Inggris David Cameron ke Jakarta tanggal 11-12 April 2012 menyiratkan betapa manisnya sosok gadis yang bernama alutsista yang harumnya sampai ke mancanegara.  Dalam sebuah wawancara dengan media nasional sebelum kedatangannya di Jakarta PM Cameron mengatakan, lupakan masa lalu mari menjemput masa depan yang lebih baik.  Kalimat ini adalah sebuah rayuan agar si gadis mau melupakan masa lalu yang pahit manakala dia disia-siakan dan ditelantarkan. 

Semua ini terkait dengan  dengan “luka hati” si alutsista ketika dengan seenaknya jet tempur ringan Hawk buatan Inggris pesanan RI ditelantarkan di Bangkok Thailand akhir tahun  90an karena diputus sepihak tanpa menyertakan kearifan mengantar sampai Jakarta baru diputus gitu loh.  Belum lagi ketika Scorpion melakukan “jalan-jalan militer” di Aceh tahun 2003 tiba-tiba saja datang perintah, jangan pakai Scorpion kata London.  Sakit hati si alutsista belum pulih.

Hawk200 TNI AU yang pernah di embargo Inggris
PM Inggris itu memang perlu datang ke Jakarta untuk merayu karena Jakarta menyimpan gula alutsista yang legit dan harum. Inggris saat ini memang lagi melakukan langkah ofensif untuk jualan alutsistanya setelah Typhoon mengalami kekalahan telak dalam tender jet tempur medium multi combat untuk Angkatan Udara India. Inggris pun datang menawarkan alutsistanya, dan memastikan salah satu alutsistanya  rudal starstreak jadi dimiliki dan digelar di beberapa batalyon Arhanud  akhir tahun ini.

Lalu ada pesawat angkut berat A400M buatan Airbus Military yang mampir ke Air Base Halim Jakarta untuk unjuk kerja dan unjuk performansi. Meski dibantah tapi kita meyakini bahwa Typhoon juga ikut ditawarkan untuk perkuatan TNI AU.  Beberapa tahun lalu ketika Menhan AS datang dan menawarkan 6 F16 blok 52 ke RI untuk memperkuat skuadron F16 kita, dibantah juga dengan mengatakan bahwa kita belum menganggarkannnya.  Tapi dua tahun berselang yang terjadi adalah kita dapat 24 F16 blok 52 upgrade dari Paman Sam plus 6 pesawat “suku cadang”.

Setelah David Cameron, Presiden Kazakhtan Nur Sultan Nazarbayev datang mencari sisa gula yang mungkin masih bisa dimanfaatkan berupa peluang kerjasama.  Memang sih baju release setiap kunjungan beberapa kepala pemerintahan negara sahabat ke Jakarta warnanya multi dimensi.  Tapi sejatinya ada gula penarik yang membawa misi bisnis para kepala negara itu ke RI apalagi kalau bukan si rupawan alutsista yang seksi itu.

Kalau tidak ada halangan Juni mendatang Kanselir Jerman Angela Merkel datang berkunjung ke Indonesia.  Boleh jadi kunjungan ini akan membuat kejutan baru bagi peningkatan kerjasama pertahanan kedua negara yang memang sudah terjalin baik selama ini.  Salah satu kejutan itu bisa saja ada di alutsista paling strategis di laut yaitu kapal selam.  Saat ini kita  punya 2 kapal selam eksisting buatan Jerman yang sudah di retrofit Korea Selatan.  Sudah pula pesan 3 kapal selam kelas Changbogo dari Korea Selatan.  Kapal selam pertama selesai tahun 2015 dan yang ketiga di PAL tahun 2018.  Artinya tahun 2018 kita punya 5 kapal selam, tapi jangan lupa pada saat yang sama KRI Cakra pada tahun itu kondisinya sudah menurun jauh.

Sangat dimungkinkan ada tambahan 2 kapal selam baru U214 dari Jerman yang memiliki saudara sepupu U209 Cakra Class dan sepupu yang lain Changbogo Class yang sedang dibuat di Korea Selatan.  Kapal selam Changbogo ini menurut petinggi TNI AL adalah U209 dengan rasa U214.  Maksudnya rancang bangun badannya tetap memakai konstruksi U209 tetapi dalemannya setingkat U214. Seperti diketahui bahwa sampai dengan tahun 2020 TNI AL mengharap target 8 kapal selam bisa dipenuhi.  Dengan asumsi pada tahun itu kapal selam Cakra Class yang berjumlah 2 unit sudah dianggap uzur maka pemenuhan target untuk 10 kapal selam RI bisa dipenuhi dengan pengadaan paralel kapal selam dari satu perguruan yang sama HDW Jerman.

Kerjasama pengadaan alutsista dengan beberapa negara sahabat apakah melalui metode beli murni atau transfer teknologi, dalam waktu dekat ini sudah menjelang panen raya. Tahun ini saja kita akan kedatangan beberapa unit Super Tucano, UAV, F16, T-50, Sukhoi, Helikopter serang, rudal darat ke udara.  Sampai dengan tahun 2014 panen raya alutsista itu segera mengisi kesatrian TNI dalam jumlah dan jenis yang sangat menggembirakan dan membanggakan.  Ini termasuk dengan alutsista buatan dalam negeri seperti Panser Anoa, Kapal Cepat Rudal, Kapal Trimaran Rudal, Roket Rhan dan lain-lain.

Rudal C705 cikal bakal Rudal RI segala matra
Tentu anggaran alutsista TNI yang dikucurkan itu menjadi magnet yang menarik negara-negara lain untuk mencari perhatian dan menarik simpati bagi RI.  Tapi sejatinya negara-negara itu hanya berperan sebagai semut kecuali Korea Selatan, dan Cina yang mengambil peran sebagai lebah madu.  Dia ambil gula itu tapi kemudian dia bagikan juga sebagai bagian dari transfer teknologi untuk memintarkan kita cara membuat produk, tidak sekedar memakai produk.  Korea berbagi ilmu teknologi jet tempur, kapal selam, panser canon. Bahkan menghibahkan beberapa alutsista yang dia miliki,  misalnya kendaraan amfibi LVT-7 dan 1 skuadron jet tempur F5E.  Cina juga mau berbagi ilmu teknologi rudal, sebuah ilmu yang sangat sulit dicari di semua universitas alutsista di seluruh dunia.  Rudal C705 menjadi batu loncatan untuk pengembangan teknologi rudal segala matra, dan itu sudah diambang pintu.

Meski masih banyak negara yang cari perhatian itu hanya memerankan diri sebagai semut, tidaklah menjadi sebuah persoalan bagi kita.  Misalnya kita beli Sukhoi karena untuk menyetarakan kemampuan teknologi pertempuran udara.  Atau beli MBT untuk menyamakan posisi gahar dengan negara jiran. Itu semua bagian dari strategi untuk memenuhi kebutuhan alutsista kita yang ketinggalan jaman.  Seiring dengan itu kita pun sedang menyiapkan dan membangun industri alutsista segala matra.  Dan itu memerlukan waktu.  Dan itu memerlukan kesabaran.  Ketika saat itu akan tiba dan tidak lama lagi, maka peran semut tadi semakin berkurang tapi tidak bisa juga hilang sama sekali, namanya juga semut pasti akan mencari gula.  Tetapi peran lebah madu yang banyak bermanfaat itu diniscayakan merupakan menu utama yang disajikan dalam setiap pengadaan alutsista kita karena kita telah menghasilkan madu sendiri untuk TNI kita.

Sabtu, 17 Maret 2012

TNI AL Terus Revitalisasi Alutsista

JAKARTA- Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut terus melakukan revitalisasi pada alat utama sistem senjata untuk menjaga wilayah laut dari segala ancaman karena peralatan yang ada sudah berusia di atas 30 tahun yang fungsinya mulai berkurang.

"Secara kuantitas, alutsista TNI sebenarnya sudah mencapai kekuatan pokok minimal (minimum essential forces/MEF). Namun, karena usianya yang sudah tua, fungsi alutsista TNI AL masih jauh dari MEF. Oleh karena itu, saat ini kita sedang gencar mendatangkan alutsista baru," kata Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno di Monumen KRI Harimau, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat.

Kasal Laksamana Soeparno mengatakan, selain menambah alutsista baru, strategi TNI AL ke depan adalah memelihara semua alutsista yang ada, merevitalisasi kemampuan alutsista yang sudah lama, merelokasi alih fungsi sesuai kebutuhan alutsista dan menghapus alutsista yang sudah tua.

"Prioritas pengadaan alutsista kami adalah produk dalam negeri," ujarnya.

Kekuatan alutsista TNI AL sendiri saat ini terdiri atas kapal perang sebanyak 151 unit, pesawat sebanyak 54 unit, dan kendaraan tempur sebanyak 339 unit.

Sementara alutsista yang saat ini sedang dipesan adalah tiga kapal selam diesel elektrik buatan Korea Selatan. Pengadaan kapal selam ini diperkirakan akan selesai pada 2015 dan 2016.

"TNI AL juga akan memesan kapal selam dari PT PAL," katanya.

Selain itu, lanjut Soeparno, TNI AL juga akan membeli empat kapal perusak kawal rudal dari PT PAL. Pesanan dari industri dalam negeri berikutnya adalah 16 kapal cepat rudal (KCR) dengan panjang 40 meter dan empat unit kapal cepat rudal Trimaran.

"KCR 40 meter diperkirakan akan selesai akhir 2014," ujarnya.

TNI AL juga telah memesan 15 kapal cepat rudal dengan panjang 60 meter, dua kapal survei, kapal latih pengganti KRI Dewaruci yang diharapkan tiba sebelum 5 Oktober 2014 dan 12 kapal angkut tank (LST).

Tak hanya itu, TNI AL juga memesan 11 helikopter antikapal selam, enam helikopter antikapal permukaan, helikopter angkut dan 54 tank amfibi.

Bahkan, TNI AL juga akan mendapat hibah kendaraan angkut personil (Armor Personel Carrier/APC) 10 unit dari Korea Selatan.

"Kita berharap ada tambahan hibah sebanyak 25 unit," katanya seraya menambahkan TNI AL juga akan mengajukan pengadaan tiga kapal "multi role light frigates" dari Inggris. (ant/hrb)

Komisi I DPR Akan Minta Konfirmasi Kementrian Pertahanan

JAKARTA - Komisi I DPR menyetujui rencana pemerintah membeli enam jet tempur Sukhoi 30MK2, karena hal itu sudah menjadi program strategis pemerintah. "Sebuah pesawat tempur itu tidak bisa cuma lima atau enam buah. Minimal itu satu skuadron, di mana jumlahnya 16 unit," kata Wakil Ketua Komisi I, TB Hasanuddin, kepada wartawan usai menerima laporan dari LSM terkait kejanggalan pembelian enam Sukhoi tersebut, di DPR, Kamis (15/3).

Saat ini Indonesia sudah memiliki sebanyak 10 pesawat Sukhoi. Terdiri atas dua unit jenis Su-27SK, tiga unit jenis Su-27SKM, dua unit jenis Su-30MK, dan tiga unit jenis Su-30MK2.

Hasanuddin mengatakan, Komisi I akan memanggil kembali Kementerian Pertahanan pada pekan depan untuk menjelaskan lagi persoalan ini. "Nanti akan kita konfirmasikan, apakah benar pemilihan dari state kredit menjadi kredit eksport Indonesia justru akan merugikan,termasuk ada atau tidaknya rekanan lain selain Rosoboronextport, "ujarnya.

Pembelian enam Sukhoi dikritik karena dinilai ada kejanggalan dalam mekanisme pendanaan. Sebelumnya, pendanaan ditetapkan melalui kredit negara Pemerintah Rusia, tapi kemudian dipindahkan menjadi kredit ekspor. Pemerintah mengeluarkan anggaran sebesar US$470 untuk pembelian 6 unit pesawat tersebut.

Hibah Tiger Taiwan, Memancing Di Air Bening

Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba saja Taiwan berbaik hati hendak menghibahkan 1 skuadron (16 unit) jet tempur sarat pengalaman F5E/F Tiger kepada Indonesia.  Berita ini tentu memicu tanda tanya dan kalkulasi ada apa gerangan Taiwan yang tak mempunyai hubungan diplomatik dengan RI mengetuk pintu hendak menyedekahkan Tigernya.  Yang lebih mengherankan belum 6 jam setelah publikasi   pernyataan KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat tanggal 9 Maret 2012 usai memimpin serah terima jabatan Komando Pendidikan TNI AU di Jakarta, Kadispen TNI AU Marsma TNI Azman Yunus langsung membantahnya dengan mengatakan kita tidak ada program hibah F5 dari Taiwan.

Seperti kita ketahui Indonesia dan China belum lama berselang telah bersepakat melaksanakan kerjasama teknologi rudal dengan memproduksi bersama rudal anti kapal C705.  Rudal ini beberapa diantaranya sudah dipasang di sejumlah kapal cepat rudal TNI AL setelah RI membeli barang jadinya.  Kerjasama teknologi rudal ini bernilai strategis karena Indonesia telah jauh-jauh hari mempersiapkan program roketnya dengan melakukan puluhan kali uji coba.  Dengan adanya alih teknologi rudal ini sangat diniscayakan RI akan mampu membuat rudal berbagai jenis dengan jarak tembak 300 km mulai dari rudal darat ke darat, rudal darat ke udara dan rudal udara ke darat berdasarkan teknologi yang diperoleh pada kerjasama dengan paman Panda.

1 jet tempur F5E Tiger TNI AU dari 12 yang dimiliki saat ini
Perjuangan mendapatkan kelas privat bersama guru rudal dari China  bukan perkara gampang karena sesungguhnya semua negara yang telah menguasai teknologi rudal sangat pelit menularkan ilmunya.  Perjuangan Indonesia sudah dimulai tahun 2007 dengan penandatanganan kerjasama pertahanan RI-China. Sepanjang masa itu hingga disepakatinya sekolah teknologi rudal berbagai upaya sudah dilakukan.  Berbagai kunjungan kementerian Pertahanan sudah dilakukan.  Presiden Indonesia berkunjung ke China dan Presiden China berkunjung ke Indonesia untuk memastikan strategisnya kerjasama pertahanan kedua negara. China juga tercatat dua kali mengirim kapal perang teknologi rudal satelit  ke Jakarta. 

Posisi RI yang tidak punya klaim wilayah teritori pulau di Laut China Selatan, posisi politiknya yang tak berpihak ke sumbu tertentu, letak geografisnya yang terbesar di Asia Tenggara bisa jadi merupakan nilai plus di mata China manakala negeri itu juga sedang mempersiapkan kekuatan pukul angkatan lautnya untuk menjadi kekuatan regional yang disegani.  Artinya China juga harus punya kawan untuk bersepaham bahwa negara-negara Asia Pasifik harusnya menjadi kekuatan di kawasannya sendiri, tidak lagi ada hegemoni sebuah negara.

Oleh sebab itu release Kadispen TNI AU mesti kita lihat sebagai langkah pre emptive agar jangan sampai air yang telah bening menjadi keruh karena ikannya tak paham kondisi lingkungan. Logikanya Indonesia memang harus menolak pemberian itu karena memang tak ada transaksi apa pun. Berbeda dengan Korsel, hibah 10 kendaraan angkut amfibi kelas berat beberapa waktu lalu dan mau ditambah lagi dengan 10 unit kepada RI karena ada transaksi bisnis alutsista dengan negeri ginseng itu.  Jika RI menerima tawaran Tiger dari Taiwan dapat dipastian paman Panda  tersinggung karena  itu sama artinya telunjuk lurus kelingking berkait, menggunting dalam lipatan. Taiwan dianggap China sebagai pembangkang dan salah satu provinsinya, sementara RI juga sampai saat ini mempunyai langkah politik dengan hanya mengakui satu China.  Artinya air sudah bening selama ini, jangan sampai menjadi keruh karena ada ikan salmon yang berenang ke hulu.

Poin penting lainnnya adalah kita juga akan mendapatkan hibah 1 skuadron F5E/F Tiger dari Korea Selatan sebagai hadiah pembelian 1 skuadron (16 unit) jet latih tempur T50 Golden Eagle.  Hibah dari Korsel tentu patut kita sambut karena akan menambah inventori jet Tiger dari 12 yang kita miliki saat ini menjadi 28 unit.  Dan itu murni hadiah dari kerjasama transaksi bisnis alutsista RI-Korea yang demikian eratnya.  Jet tempur ringan F5E masih dibutuhkan untuk melakukan patroli udara  mengcover wilayah udara RI yang luas ini.  Indonesia masih akan mengoperasikan jet tempur F5E sampai tahun 2020.

Mulai tahun 2014 kita akan keluar dari sesak nafas alutsista.  Di matra udara sudah berdatangan jet-jet tempur Sukhoi, F16, T50, Super Tucano, pesawat angkut, pesawat intai, helikopter tempur, helikopter angkut, dan rudal. Termasuk keberadaan 28 jet F5E yang berguna untuk patroli udara sementara jet tempur kelas berat Sukhoi terlalu mahal ongkosnya jika hanya digunakan untuk patroli udara. Jet tempur Sukhoi dirancang untuk pertempuran udara high class dan memiliki jarak jelajah yang mampu mengcover luas wilayah udara RI.  Sayang kan kalau hanya untuk mengejar pesawat Papua Nugini atau pesawat Pakistan harus dengan Sukhoi.

Langkah baik hati Taiwan harus kita sikapi dengan bijak.  Itu sebabnya langkah Kadispen TNI AU merupakan suara kecepatan yang perlu diapresiasi karena kalau terlambat merespons akan menimbulkan polemik. Jadi sebelum berpolemik mending di delete saja.  Langkah Taiwan yang tiba-tiba berbaik hati ini harus dibaca sebagai memancing di air bening karena memang kita mempunyai hubungan dagang yang baik dengan negeri pulau itu. Di sisi lain kita punya hubungan yang hangat dan sangat bersahabat dengan China yang sah di mata PBB.  Karena airnya bening tentu sangat mudah mendapatkan ikannya tanpa harus mengaduk-aduk hubungan yang sudah baik antara RI-China dan RI Taiwan.

Taiwan punya hubungan sangat dekat dengan AS, kalau boleh dibilang sekutunya AS sekaligus payungnya, dan beragam alutsistanya didominasi buatan negara adi daya itu.  Bisa jadi AS menggunakan tangan Taiwan secara halus untuk “menggoda” Indonesia.  AS bersahabat baik dengan RI karena kepentingannya juga untuk jangan sampai negeri ini jatuh ke pelukan China atau berkiblat ke China.  Ini adalah ujian awal sekolah teknologi rudal karena di hari-hari berikutnya masih akan ada lagi ujian yang mengharuskan kita bersabar sampai sekolah itu selesai dan langsung ditutup karena gurunya tak mau ada murid yang lain.  Sabar itu memang penting sama seperti pelecehan teritori yang kita alami selama ini.  Sabar itu juga sama seperti yang diungkapkan bahasa tubuh Presiden SBY di Mabes TNI Cilangkap Jakarta tahun 2007 ketika emosi Ambalat mencapai titik didih.  Beliau berupaya mendinginkan emosi rakyat saat itu namun sesungguhnya itulah awal “kemarahan militer”nya, lalu bersama petinggi Kemhan dan Mabes mencanangkan pengadaan alutsista TNI secara besar-besaran.
*******

Kamis, 15 Maret 2012

Anggaran Pertahanan China Lampaui 12 Negara Asia Pasifik

SINGAPURA - Anggaran pertahanan China akan meningkat dua kali lipat antara tahun 2011 hingga 2015, dan bahkan lebih besar dibanding jumlah total anggaran pertahanan 12 negara terbesar di Asia Pasifik (Aspas). Demikian diungkapkan lembaga riset ekonomi-keamanan yang bermarkas di Amerika Serikat, IHS, Selasa (14/2). Tahun lalu, China yang menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia menganggarkan dana sebesar 119,8 miliar dollar AS (sekitar 1.084 triliun rupiah) untuk pertahanan.

Menurut HIS, jumlah ini akan meningkat dua kali lipat menjadi 238,2 miliar dollar AS (sekitar 2.154 triliun rupiah) pada tahun 2015. HIS menyebutkan, peningkatan ini akan dimungkinkan oleh tingkat pertumbuhan ekonomi China yang pada periode 2011-2015 diperkirakan dapat mencapai 18,75 persen per tahun. Dana 238,2 miliar dollar AS ini, berarti anggaran pertahanan Negeri Tirai Bambu di tahun 2015 mencapai empat kali lipat anggaran pertahanan rival klasiknya di Asia Pasifik, Jepang.

Bahkan, anggaran pertahanan pada tahun 2015 itu melebihi jumlah total biaya pertahanan 12 negara lain di Asia Pasifik, yaitu Jepang, India, Korea Selatan, Australia, Taiwan, Singapura, Indonesia, Pakistan, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Selandia Baru. Dengan kata lain, kalau anggaran pertahanan 12 negara itu digabung menjadi satu, jumlahnya masih lebih kecil dibanding dana pertahanan China tahun 2015.

IHS mengatakan, jumlah total gabungan anggaran pertahanan 12 negara Aspas tersebut tahun 2015 hanya mencapai 232,5 miliar dollar AS (sekitar 2.103 triliun rupiah). "Beijing sanggup membuat anggaran pertahanannya kian raksasa. Mereka selama dua dekade terakhir juga terus- menerus membangun kekuatan militernya," kata Rajiv Biswas, ekonom untuk kawasan Asia Pasifik pada IHS Global Insight. "Ini akan terus berlanjut, kecuali China mengalami bencana ekonomi."

Menurut Sarah McDowall, Kepala IHS Global Insight Asia Pasifik, rencana Amerika Serikat mengalihkan fokus militernya ke Asia Pasifik merupakan salah satu faktor yang juga mendorong China memperbesar anggaran pertahanannya. Kedua negara merupakan rival sejak era Perang Dingin. "Peningkatan besar-besaran anggaran pertahanan China telah membuat khawatir banyak pemerintahan. Dan mungkin yang terpenting, telah mendorong Washington mengambil langkah diplomatis untuk menanamkan kembali profi lnya di Pasifik," terangnya.

Selain memotong anggaran pertahanan, Presiden AS Barack Obama, sejak November tahun lalu, telah bertekad untuk meningkatkan kehadiran militernya di Asia Pasifik. Obama mengambil langkah tersebut setelah negara-negara sekutu AS di Asia-seperti Jepang dan Filipina-resah karena militer China, khususnya angkatan laut, makin agresif. Paul Burton, analis senior IHS Jane's Defence Budgets, juga yakin keresahan atas kebangkitan China akan mendorong negara-negara seperti Indonesia dan Vietnam meningkatkan anggaran pertahanannya.

Namun menurut Burton, kedua negara ini tetap tak akan bisa mengungguli anggaran pertahanan Singapura yang dari segi geografi sebenarnya lebih kecil namun secara ekonomi lebih makmur. Pada tahun 2015, Singapura akan meningkatkan anggaran pertahanannya hingga 12,3 miliar dollar AS (sekitar 111,2 triliun rupiah).

Kunjungan Xi Jinping

Sementara itu, pemimpin China masa depan, Wakil Presiden, Xi Jinping, pada Selasa dijadwalkan bertemu dengan Obama di Gedung Putih. Xi, 58 tahun, tiba di Washington sejak Senin (23/2) malam waktu setempat. Xi merupakan pejabat tertinggi China yang akan mengunjungi Gedung Putih, setelah Obama pada November 2011 lalu meluncurkan peralihan fokus militer AS ke Asia Pasifik.

Walau rivalitas kedua negara kian panas, Obama dijadwalkan menerima Xi langsung di Ruang Oval Gedung Putih yang biasanya hanya untuk menyambut pemimpin dari negara- negara sekutu terkuat AS. Akhir tahun ini, Xi akan dinobatkan sebagai Ketua Partai Komunis China. Ia baru akan dinobatkan sebagai pengganti Hu Jintao pada Maret 2013. Dalam pertemuan dengan Xi, Obama diperkirakan akan berupaya menyeimbangkan antara kepentingan AS dan kepentingan pribadinya untuk bisa terpilih kembali sebagai Presiden AS, November tahun ini. dng/AFP/Rtr/I-1


sumber : http://koran-jakarta.com

Perlombaan Senjata di ASEAN

13 Maret 2012, Amsterdam: Indonesia berminat membeli kendaraan lapis baja Belanda. Keinginan itu bukan hanya sekedar monopoli Indonesia. Diam-diam semua negara Asia tenggara berlomba-lomba memodernisir peralatan militernya.

Dari pesawat tempur F-16, jet Sukhoi, kapal selam, kapal perang sampai tank. Semua itu juga menyangkut gengsi. Demikian topik koran sore Belanda NRC Handelsblad.

Tidak hanya Cina yang minggu lalu menaikkan anggaran militernya dengan 100 miliar dollar. Tapi juga Filipina, Indonesia sampai Vietnam dan Singapura. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, naik pula anggaran militer mereka dengan ratusan juta dolar per tahun.

Para pengamat sampai menyebut ada semacam lomba senjata di Asia.

Baru dan Canggih

Dibanding dulu, negara-negara Asia Tenggara dan Cina kini lebih memilih kendaraan dan peralatan militer terbaru serba canggih. Yang mencolok adalah pembelian kapal selam. Malaysia baru saja membeli tiga kapal selam, Indonesia pesan tiga, Vietnam enam dan Muangthai mau beli empat dari Jerman.

Negara-negara Asia tenggara membeli senjata karena faktor perasaan kurang aman. Vietnam dan Filipina misalnya cemas akan kebijakan maritim yang akan ditempuh Beijing. Di laut Cina Selatan ada enam pulau Vietnam.

Tidak ada yang tahu apa kebijakan pertahanan Cina yang semakin menandingi pertahanan Amerika.

Selain menghadapi negara raksasa Cina, di antara rumpun negara-negara ASEAN sendiri ada juga saling curiga, tulis koran NRC Handelsblad. Negara pulau Singapura yang dikelilingi negara-negara besar seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand punya angkatan bersenjata yang patut diperhitungkan.

Indonesia dan Malaysia berulangkali ribut soal kapal-kapal penangkap ikan. Konflik di perbatasan Kamboja-Muangthai tahun 2008, menewaskan puluhan orang.

Gengsi

"Angkatan bersenjata yang canggih bukan hanya soal pertahanan tetapi juga menyangkut gengsi," ungkap Tim Huxley direktur Asia di International Institute for Strategic Studies. "Pemerintah juga perlu pamer kekuatan militer pada penduduknya," tambahnya.

Jual-beli peralatan militer tidak lepas dari praktek korupsi. Sebuah perusahaan Prancis didesas-desuskan membayar uang suap € 114,- juta pada sebuah perusahaan yang dekat dengan perdana menteri Malaysia untuk menjual tiga kapal selam.

Tapi kapal selam pertama yang diserahterimakan ternyata tidak bisa beroperasi di bawah permukaan laut.

Amerika

Lomba senjata di Asia Tenggara juga dipicu oleh campur tangan Amerika. Untuk menandingi Cina, Washington meningkatkan hubungan dan kerjasama militer dengan Filipina, Indonesia dan Australia. Berarti negara-negara tersebut lebih mudah tembus ke sektor industri militer Amerika.

Amerika sebaliknya berdalih bahwa kerja sama tersebut hanyalah dalam rangka kemitraan, demikian kutipan NRC Handelsblad.

Roket Indonesia Gentarkan Australia, Singapura dan Malaysia

Momentum ini harus dijaga terus dan ditingkatkan sebagai kebanggaan atas kemampuan teknologi sendiri. Jangan sampai karya insinyur Indonesia ini dijegal justru oleh orang Indonesia sendiri (biasa) para ekonom-ekonom Pemerintah yang sering menganggap karya bangsa sendiri sebagai terlalu mahal dan hanya buang-buang uang saja untuk riset ....! Inilah musuh yang sebenarnya. Waspadailah kawan-kawan insinyur Indonesia.

Meski sudah berlangsung 2 pekan yang lalu, peluncuran roket RX-420 Lapan ternyata masih jadi buah bibir. Anehnya bukan jadi buah bibir di Indonesia yang lebih senang ceritera Pilpres, tetapi di Australia, Singapura dan tentu saja di negara tetangga yang suka siksa TKI dan muter-muterin Ambalat yakni Malaysia.



Seperti diketahui roket RX-420 ini menggunakan propelan yang dapat memberikan daya dorong lebih besar sehingga mencapai 4 kali kecepatan suara. Hal itu membuat daya jelajahnya mencapai 100 km. Bahkan bisa mencapai 190 km bila struktur roket bisa dibuat lebih ringan. Yang punya nilai tambah tinggi ini adalah 100% hasil karya anak bangsa, para insinyur Indonesia. Begitu pula semua komponen roket-roket balistik dan kendali dikembangkan sendiri di dalam negeri, termasuk software. Hanya komponen subsistem mikroprosesor yang masih diimpor. Anggaran yang dikeluarkan untuk peluncurannya pun “cuma” Rp 1 milyar. Kalah jauh dengan yang dikorupsi para anggota DPR untuk traveller checks pemenangan Miranda Gultom sebagai Deputi Senior Gubernur BI yang lebih dari Rp. 50 milyar. Apalagi kalau dibandingkan dengan korupsi BLBI yang lebih dari Rp. 700 trilyun.
Mengapa malah menjadi buah bibir di Australia, Singapura dan Malaysia? Karena keberhasilan peluncuran roket Indonesia ini ke depan akan membawa Indonesia mampu mendorong dan mengantarkan satelit Indonesia bernama Nano Satellite sejauh 3.600 km ke angkasa. Satelit Indonesia ini nanti akan berada pada ketinggian 300 km dan kecepatan 7,8 km per ******* Bila ini terlaksana Indonesia akan menjadi negara yang bisa menerbangkan satelit sendiri dengan produk buatan sendiri. Indonesia dengan demikian akan masuk member "Asian Satellite Club" bersama Cina, Korea Utara, India dan Iran.

Nah kekhawatiran Australia, Singapura dan Malaysia ini masuk akal, bukan? Kalau saja Indonesia mampu mendorong satelit sampai 3.600 km untuk keperluan damai atau keperluan macam-macam tergantung kesepakatan rakyat Indonesia. Maka otomatis pekerjaan ecek-ecek bagi Indonesia untuk mampu meluncurkan roket sejauh 190 km untuk keperluan militer bakal sangat mengancam mereka sekarang ini pun juga!!! Kalau tempat peluncurannya ditempatkan di Batam atau Bintan, maka Singapura dan Malaysia Barat sudah gemetaran bakal kena roket Indonesia. Dan kalau ditempatkan di sepanjang perbatasan Kalimantan Indonesia dengan Malaysia Timur, maka si OKB Malaysia tak akan pernah berpikir ngerampok Ambalat. Akan hal Australia, mereka ada rasa takutnya juga. Bahwa mitos ada musuh dari utara yakni Indonesia itu memang bukan sekedar mitos tetapi sungguh ancaman nyata di masa depan dekat.

CN 235 Versi Militer
Rupanya Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama “nyaho” kehebatan insinyur-insinyur Indonesia. Buktinya? Tidak hanya gentar dengan roket RX-420 Lapan tetapi mereka sekarang sedang mencermati pengembangan lebih jauh dari CN235 versi Militer buatan PT. DI. Juga mencermati perkembangan PT. PAL yang sudah siap dan mampu membuat kapal selam asal dapat kepercayaan penuh dan dukungan dana dari pemerintah.

Kalau para ekonom Indonesia antek-antek World Bank dan IMF menyebut pesawat-pesawat buatan PT. DI ini terlalu mahal dan menyedot investasi terlalu banyak (“cuma” Rp. 30 trilun untuk infrastruktur total, SDM dan lain-lain) dan hanya jadi mainannya BJ Habibie. Tetapi mengapa Korea Selatan dan Turki mengaguminya setengah mati? Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya. Inovasi 40 insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 versi militer ini adalah penambahan persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi dan melumpuhkan kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat cukup ditambah satu saja CN235 versi militer (disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang ada) untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya.
Nah, jadi musuh yang sebenarnya ada di Indonesia sendiri. Yakni watak orang Indonesia yang tidak mau melihat orang Indonesia sendiri berhasil. Karya insinyur-insinyur Indonesia yang hebat dalam membuat alutsista dibilangin orang Indonesia sendiri terutama para ekonom pro Amerika Serikat dan Eropa: “Mending beli langsung dari Amerika Serikat dan Eropa karena harganya lebih murah”. Mereka tidak berpikir jauh ke depan bagaimana Indonesia akan terus tergantung di bidang teknologi, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi dengan membayarnya sangat mahal terus menerus sampai kiamat tiba.

Kalau ada kekurangan yang terjadi dengan industri karya bangsa sendiri, harus dinilai lebih fair dan segera diperbaiki bersama-sama. Misalnya para ahli pemasaran atau sarjana-sarjana ekonomi harus diikutsertakan dalam team work. Sehingga insinyur-insinyur itu tidak hanya pinter produksi sebuah pesawat tetapi setidaknya tahu bagaimana menjual sebuah pesawat itu berbeda dengan menjual sebuah Honda Jazz. Kalau ada kendala dalam pengadaan Kredit Ekspor sebagai salah satu bentuk pembayaran, tolong dipecahkan dan didukung oleh dunia perbankan, agar jualan produk sendiri bisa optimal karena akan menarik bagi calon pembeli asing yang tak bisa bayar cash.

Kehadiran Pasukan AS di Asia Salah Waktu

Pemerintah China menyayangkan kehadiran pasukan Amerika Serikat di kawasan Asia. Duta Besar China untuk Indonesia, Liu Jianchou, mengatakan semakin banyaknya militer di Asia, akan mengancam kestabilan kawasan.

Ditemui pada konferensi pers di Kedutaan Besar China di Jakarta, Kamis 15 Maret 2012, Liu mengatakan bahwa pemerintah AS dan Australia telah menjamin kehadiran pasukan di Asia bukan untuk menandingi China. Namun, keberadaan mereka di kawasan ini tidak tepat waktunya.

"Kawasan Asia Timur saat ini damai, stabil dan berkembang. Peningkatan aktivitas militer oleh negara lain akan menimbulkan ketidakpercayaan yang berpotensi memicu ketidakstabilan di kawasan," kata Liu.

Kendati demikian, Liu berharap Amerika Serikat dapat memainkan peranan yang konstruktif dalam perdamaian Asia. Indonesia, lanjutnya, juga diharapkan bekerjasama dengan China dalam mewujudkan hal ini.

"Indonesia dan China sangat berpengaruh di kawasan, semoga kedua negara dapat meningkatkan kerja sama untuk membentuk rasa saling  percaya antar negara kawasan," kata Liu.

Akhir tahun lalu AS menambah jumlah pasukannya di pangkalan militer Darwin, Australia. Penambahan pasukan juga sesuai dengan kebijakan baru militer AS tahun 2012 yang mengubah fokus mereka ke Asia.

Banyak yang mengatakan, kehadiran AS untuk menandingi pengaruh China di Asia terkait isu Laut China Selatan. AS membantahnya dengan mengatakan pasukan mereka di Darwin bertugas untuk penanganan bencana dan berbagai pelatihan tanggap bencana lainnya.

Brasil Tawarkan Kerjasama Industri Alutsista

Jakarta, DMC – Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI , Sjafrie Sjamsoeddin, Kamis (15/3) menerima kunjungan Duta Besar  Brasil untuk Indonesia, Paulo Alberto da Silveira Soares, di Kantor Kemhan, Jakarta.
Saat menerima kunjungan Dubes Brasil tersebut, Wamenhan didampingi Dirjen Strahan, Mayjen TNI Puguh Santoso, Kapusada Baranahan Kemhan, Marsma TNI Asep Sumaruddin dan Kapuskom Publik Kemhan, Brigjen TNI Hartind Asrin.

Pada kesempatan pertemuan itu Dubes Brasil dan Wamenhan membahas peluang peningkatan kerjasama pertahanan khususnya di bidang industri Alutsista. Dubes Brasil mengatakan, maksud kunjungannya kali ini bukan hanya mengarah kepada penawaran produk alutsista terbaru kedirgantaraan ataupun juga kapal perang.

Akan tetapi Pemerintah Brasil juga mengharapkan adanya peningkatan kerjasama industri  melalui produksi bersama pembangunan pesawat terbang dan kapal perang antara industri pertahanan laut dan udara kedua negara.

Wamenhan sangat menyambut baik penawaran pemerintah Brasil dalam hal kerjasama industri pertahanan ini. Khusus terkait industri kedirgantaraan, Wamenhan menjelaskan saat ini Pemerintah Indonesia telah memesan pesawat Sebanyak 16 unit pesawat tempur Super Tucano A29 buatan Industri Embraer Defense System, Brasil.

Wamenhan menambahkan meski telah memesan pesawat-pesawat tersebut, pemerintah Indonesia masih tetap ingin mengembangkan, bukan hanya sebagai user. Namun bisa membuka peluang untuk menjadi distributor produk pesawat ini di wilayah Asia.

Sehubungan dengan itu, Wamenhan mengharapkan jika peluang kerjasama terlebih lagi dalam hal produksi bersama pembangunan alutsista kedirgantaraan antara industri pertahanan dalam negeri PT. Dirgantara Indonesia dengan Industri Embraer Defense System, Brasil dapat diwujudkan. Diharapkan akhir  tahun 2012 kedua negara dapat mewujudkan peluang peningkatan kerjasama industri pertahanan udara. (MAW/SR).

Posisi Penting Indonesia Di Mata Cina

All hands,

Seiring dengan perubahan kebijakan Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik, Cina kini semakin memandang penting posisi Indonesia bagi kepentingannya. Beijing sekarang menjadikan peningkatan hubungan dengan Indonesia semakin penting, termasuk kerjasama di bidang pertahanan. Tentu menjadi pertanyaan, mengapa Jakarta semakin penting di mata Beijing?
Pertama, tentu saja posisi geografis Indonesia. Soal ini tak perlu didiskusikan panjang lebar. Kedua, posisi Indonesia sebagai pemimpin de facto ASEAN. Wajar saja kalau Indonesia menjadi primus inter pares ASEAN, sebab Indonesia adalah negara terbesar dan terpenting di Asia Tenggara. Ketiga, kebijakan politik Indonesia. Tentang yang ketiga ini, singkatnya Cina menganggap penting Indonesia karena berbeda dengan beberapa negara ASEAN lainnya, kebijakan Indonesia tidak selalu membebek Amerika Serikat.
Dengan tiga alasan itu, wajar saja bagi Cina untuk kian memandang penting posisi Indonesia di tengah upaya Amerika Serikat untuk membatasi geraknya. Pertanyaannya adalah, "daftar belanja" apa saja yang sudah disiapkan ole
 

Cerita Hidup Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger