Kamis, 15 Maret 2012

Anggaran Pertahanan China Lampaui 12 Negara Asia Pasifik

SINGAPURA - Anggaran pertahanan China akan meningkat dua kali lipat antara tahun 2011 hingga 2015, dan bahkan lebih besar dibanding jumlah total anggaran pertahanan 12 negara terbesar di Asia Pasifik (Aspas). Demikian diungkapkan lembaga riset ekonomi-keamanan yang bermarkas di Amerika Serikat, IHS, Selasa (14/2). Tahun lalu, China yang menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia menganggarkan dana sebesar 119,8 miliar dollar AS (sekitar 1.084 triliun rupiah) untuk pertahanan.

Menurut HIS, jumlah ini akan meningkat dua kali lipat menjadi 238,2 miliar dollar AS (sekitar 2.154 triliun rupiah) pada tahun 2015. HIS menyebutkan, peningkatan ini akan dimungkinkan oleh tingkat pertumbuhan ekonomi China yang pada periode 2011-2015 diperkirakan dapat mencapai 18,75 persen per tahun. Dana 238,2 miliar dollar AS ini, berarti anggaran pertahanan Negeri Tirai Bambu di tahun 2015 mencapai empat kali lipat anggaran pertahanan rival klasiknya di Asia Pasifik, Jepang.

Bahkan, anggaran pertahanan pada tahun 2015 itu melebihi jumlah total biaya pertahanan 12 negara lain di Asia Pasifik, yaitu Jepang, India, Korea Selatan, Australia, Taiwan, Singapura, Indonesia, Pakistan, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Selandia Baru. Dengan kata lain, kalau anggaran pertahanan 12 negara itu digabung menjadi satu, jumlahnya masih lebih kecil dibanding dana pertahanan China tahun 2015.

IHS mengatakan, jumlah total gabungan anggaran pertahanan 12 negara Aspas tersebut tahun 2015 hanya mencapai 232,5 miliar dollar AS (sekitar 2.103 triliun rupiah). "Beijing sanggup membuat anggaran pertahanannya kian raksasa. Mereka selama dua dekade terakhir juga terus- menerus membangun kekuatan militernya," kata Rajiv Biswas, ekonom untuk kawasan Asia Pasifik pada IHS Global Insight. "Ini akan terus berlanjut, kecuali China mengalami bencana ekonomi."

Menurut Sarah McDowall, Kepala IHS Global Insight Asia Pasifik, rencana Amerika Serikat mengalihkan fokus militernya ke Asia Pasifik merupakan salah satu faktor yang juga mendorong China memperbesar anggaran pertahanannya. Kedua negara merupakan rival sejak era Perang Dingin. "Peningkatan besar-besaran anggaran pertahanan China telah membuat khawatir banyak pemerintahan. Dan mungkin yang terpenting, telah mendorong Washington mengambil langkah diplomatis untuk menanamkan kembali profi lnya di Pasifik," terangnya.

Selain memotong anggaran pertahanan, Presiden AS Barack Obama, sejak November tahun lalu, telah bertekad untuk meningkatkan kehadiran militernya di Asia Pasifik. Obama mengambil langkah tersebut setelah negara-negara sekutu AS di Asia-seperti Jepang dan Filipina-resah karena militer China, khususnya angkatan laut, makin agresif. Paul Burton, analis senior IHS Jane's Defence Budgets, juga yakin keresahan atas kebangkitan China akan mendorong negara-negara seperti Indonesia dan Vietnam meningkatkan anggaran pertahanannya.

Namun menurut Burton, kedua negara ini tetap tak akan bisa mengungguli anggaran pertahanan Singapura yang dari segi geografi sebenarnya lebih kecil namun secara ekonomi lebih makmur. Pada tahun 2015, Singapura akan meningkatkan anggaran pertahanannya hingga 12,3 miliar dollar AS (sekitar 111,2 triliun rupiah).

Kunjungan Xi Jinping

Sementara itu, pemimpin China masa depan, Wakil Presiden, Xi Jinping, pada Selasa dijadwalkan bertemu dengan Obama di Gedung Putih. Xi, 58 tahun, tiba di Washington sejak Senin (23/2) malam waktu setempat. Xi merupakan pejabat tertinggi China yang akan mengunjungi Gedung Putih, setelah Obama pada November 2011 lalu meluncurkan peralihan fokus militer AS ke Asia Pasifik.

Walau rivalitas kedua negara kian panas, Obama dijadwalkan menerima Xi langsung di Ruang Oval Gedung Putih yang biasanya hanya untuk menyambut pemimpin dari negara- negara sekutu terkuat AS. Akhir tahun ini, Xi akan dinobatkan sebagai Ketua Partai Komunis China. Ia baru akan dinobatkan sebagai pengganti Hu Jintao pada Maret 2013. Dalam pertemuan dengan Xi, Obama diperkirakan akan berupaya menyeimbangkan antara kepentingan AS dan kepentingan pribadinya untuk bisa terpilih kembali sebagai Presiden AS, November tahun ini. dng/AFP/Rtr/I-1


sumber : http://koran-jakarta.com

Perlombaan Senjata di ASEAN

13 Maret 2012, Amsterdam: Indonesia berminat membeli kendaraan lapis baja Belanda. Keinginan itu bukan hanya sekedar monopoli Indonesia. Diam-diam semua negara Asia tenggara berlomba-lomba memodernisir peralatan militernya.

Dari pesawat tempur F-16, jet Sukhoi, kapal selam, kapal perang sampai tank. Semua itu juga menyangkut gengsi. Demikian topik koran sore Belanda NRC Handelsblad.

Tidak hanya Cina yang minggu lalu menaikkan anggaran militernya dengan 100 miliar dollar. Tapi juga Filipina, Indonesia sampai Vietnam dan Singapura. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, naik pula anggaran militer mereka dengan ratusan juta dolar per tahun.

Para pengamat sampai menyebut ada semacam lomba senjata di Asia.

Baru dan Canggih

Dibanding dulu, negara-negara Asia Tenggara dan Cina kini lebih memilih kendaraan dan peralatan militer terbaru serba canggih. Yang mencolok adalah pembelian kapal selam. Malaysia baru saja membeli tiga kapal selam, Indonesia pesan tiga, Vietnam enam dan Muangthai mau beli empat dari Jerman.

Negara-negara Asia tenggara membeli senjata karena faktor perasaan kurang aman. Vietnam dan Filipina misalnya cemas akan kebijakan maritim yang akan ditempuh Beijing. Di laut Cina Selatan ada enam pulau Vietnam.

Tidak ada yang tahu apa kebijakan pertahanan Cina yang semakin menandingi pertahanan Amerika.

Selain menghadapi negara raksasa Cina, di antara rumpun negara-negara ASEAN sendiri ada juga saling curiga, tulis koran NRC Handelsblad. Negara pulau Singapura yang dikelilingi negara-negara besar seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand punya angkatan bersenjata yang patut diperhitungkan.

Indonesia dan Malaysia berulangkali ribut soal kapal-kapal penangkap ikan. Konflik di perbatasan Kamboja-Muangthai tahun 2008, menewaskan puluhan orang.

Gengsi

"Angkatan bersenjata yang canggih bukan hanya soal pertahanan tetapi juga menyangkut gengsi," ungkap Tim Huxley direktur Asia di International Institute for Strategic Studies. "Pemerintah juga perlu pamer kekuatan militer pada penduduknya," tambahnya.

Jual-beli peralatan militer tidak lepas dari praktek korupsi. Sebuah perusahaan Prancis didesas-desuskan membayar uang suap € 114,- juta pada sebuah perusahaan yang dekat dengan perdana menteri Malaysia untuk menjual tiga kapal selam.

Tapi kapal selam pertama yang diserahterimakan ternyata tidak bisa beroperasi di bawah permukaan laut.

Amerika

Lomba senjata di Asia Tenggara juga dipicu oleh campur tangan Amerika. Untuk menandingi Cina, Washington meningkatkan hubungan dan kerjasama militer dengan Filipina, Indonesia dan Australia. Berarti negara-negara tersebut lebih mudah tembus ke sektor industri militer Amerika.

Amerika sebaliknya berdalih bahwa kerja sama tersebut hanyalah dalam rangka kemitraan, demikian kutipan NRC Handelsblad.

Roket Indonesia Gentarkan Australia, Singapura dan Malaysia

Momentum ini harus dijaga terus dan ditingkatkan sebagai kebanggaan atas kemampuan teknologi sendiri. Jangan sampai karya insinyur Indonesia ini dijegal justru oleh orang Indonesia sendiri (biasa) para ekonom-ekonom Pemerintah yang sering menganggap karya bangsa sendiri sebagai terlalu mahal dan hanya buang-buang uang saja untuk riset ....! Inilah musuh yang sebenarnya. Waspadailah kawan-kawan insinyur Indonesia.

Meski sudah berlangsung 2 pekan yang lalu, peluncuran roket RX-420 Lapan ternyata masih jadi buah bibir. Anehnya bukan jadi buah bibir di Indonesia yang lebih senang ceritera Pilpres, tetapi di Australia, Singapura dan tentu saja di negara tetangga yang suka siksa TKI dan muter-muterin Ambalat yakni Malaysia.



Seperti diketahui roket RX-420 ini menggunakan propelan yang dapat memberikan daya dorong lebih besar sehingga mencapai 4 kali kecepatan suara. Hal itu membuat daya jelajahnya mencapai 100 km. Bahkan bisa mencapai 190 km bila struktur roket bisa dibuat lebih ringan. Yang punya nilai tambah tinggi ini adalah 100% hasil karya anak bangsa, para insinyur Indonesia. Begitu pula semua komponen roket-roket balistik dan kendali dikembangkan sendiri di dalam negeri, termasuk software. Hanya komponen subsistem mikroprosesor yang masih diimpor. Anggaran yang dikeluarkan untuk peluncurannya pun “cuma” Rp 1 milyar. Kalah jauh dengan yang dikorupsi para anggota DPR untuk traveller checks pemenangan Miranda Gultom sebagai Deputi Senior Gubernur BI yang lebih dari Rp. 50 milyar. Apalagi kalau dibandingkan dengan korupsi BLBI yang lebih dari Rp. 700 trilyun.
Mengapa malah menjadi buah bibir di Australia, Singapura dan Malaysia? Karena keberhasilan peluncuran roket Indonesia ini ke depan akan membawa Indonesia mampu mendorong dan mengantarkan satelit Indonesia bernama Nano Satellite sejauh 3.600 km ke angkasa. Satelit Indonesia ini nanti akan berada pada ketinggian 300 km dan kecepatan 7,8 km per ******* Bila ini terlaksana Indonesia akan menjadi negara yang bisa menerbangkan satelit sendiri dengan produk buatan sendiri. Indonesia dengan demikian akan masuk member "Asian Satellite Club" bersama Cina, Korea Utara, India dan Iran.

Nah kekhawatiran Australia, Singapura dan Malaysia ini masuk akal, bukan? Kalau saja Indonesia mampu mendorong satelit sampai 3.600 km untuk keperluan damai atau keperluan macam-macam tergantung kesepakatan rakyat Indonesia. Maka otomatis pekerjaan ecek-ecek bagi Indonesia untuk mampu meluncurkan roket sejauh 190 km untuk keperluan militer bakal sangat mengancam mereka sekarang ini pun juga!!! Kalau tempat peluncurannya ditempatkan di Batam atau Bintan, maka Singapura dan Malaysia Barat sudah gemetaran bakal kena roket Indonesia. Dan kalau ditempatkan di sepanjang perbatasan Kalimantan Indonesia dengan Malaysia Timur, maka si OKB Malaysia tak akan pernah berpikir ngerampok Ambalat. Akan hal Australia, mereka ada rasa takutnya juga. Bahwa mitos ada musuh dari utara yakni Indonesia itu memang bukan sekedar mitos tetapi sungguh ancaman nyata di masa depan dekat.

CN 235 Versi Militer
Rupanya Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama “nyaho” kehebatan insinyur-insinyur Indonesia. Buktinya? Tidak hanya gentar dengan roket RX-420 Lapan tetapi mereka sekarang sedang mencermati pengembangan lebih jauh dari CN235 versi Militer buatan PT. DI. Juga mencermati perkembangan PT. PAL yang sudah siap dan mampu membuat kapal selam asal dapat kepercayaan penuh dan dukungan dana dari pemerintah.

Kalau para ekonom Indonesia antek-antek World Bank dan IMF menyebut pesawat-pesawat buatan PT. DI ini terlalu mahal dan menyedot investasi terlalu banyak (“cuma” Rp. 30 trilun untuk infrastruktur total, SDM dan lain-lain) dan hanya jadi mainannya BJ Habibie. Tetapi mengapa Korea Selatan dan Turki mengaguminya setengah mati? Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya. Inovasi 40 insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 versi militer ini adalah penambahan persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi dan melumpuhkan kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat cukup ditambah satu saja CN235 versi militer (disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang ada) untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya.
Nah, jadi musuh yang sebenarnya ada di Indonesia sendiri. Yakni watak orang Indonesia yang tidak mau melihat orang Indonesia sendiri berhasil. Karya insinyur-insinyur Indonesia yang hebat dalam membuat alutsista dibilangin orang Indonesia sendiri terutama para ekonom pro Amerika Serikat dan Eropa: “Mending beli langsung dari Amerika Serikat dan Eropa karena harganya lebih murah”. Mereka tidak berpikir jauh ke depan bagaimana Indonesia akan terus tergantung di bidang teknologi, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi dengan membayarnya sangat mahal terus menerus sampai kiamat tiba.

Kalau ada kekurangan yang terjadi dengan industri karya bangsa sendiri, harus dinilai lebih fair dan segera diperbaiki bersama-sama. Misalnya para ahli pemasaran atau sarjana-sarjana ekonomi harus diikutsertakan dalam team work. Sehingga insinyur-insinyur itu tidak hanya pinter produksi sebuah pesawat tetapi setidaknya tahu bagaimana menjual sebuah pesawat itu berbeda dengan menjual sebuah Honda Jazz. Kalau ada kendala dalam pengadaan Kredit Ekspor sebagai salah satu bentuk pembayaran, tolong dipecahkan dan didukung oleh dunia perbankan, agar jualan produk sendiri bisa optimal karena akan menarik bagi calon pembeli asing yang tak bisa bayar cash.

Kehadiran Pasukan AS di Asia Salah Waktu

Pemerintah China menyayangkan kehadiran pasukan Amerika Serikat di kawasan Asia. Duta Besar China untuk Indonesia, Liu Jianchou, mengatakan semakin banyaknya militer di Asia, akan mengancam kestabilan kawasan.

Ditemui pada konferensi pers di Kedutaan Besar China di Jakarta, Kamis 15 Maret 2012, Liu mengatakan bahwa pemerintah AS dan Australia telah menjamin kehadiran pasukan di Asia bukan untuk menandingi China. Namun, keberadaan mereka di kawasan ini tidak tepat waktunya.

"Kawasan Asia Timur saat ini damai, stabil dan berkembang. Peningkatan aktivitas militer oleh negara lain akan menimbulkan ketidakpercayaan yang berpotensi memicu ketidakstabilan di kawasan," kata Liu.

Kendati demikian, Liu berharap Amerika Serikat dapat memainkan peranan yang konstruktif dalam perdamaian Asia. Indonesia, lanjutnya, juga diharapkan bekerjasama dengan China dalam mewujudkan hal ini.

"Indonesia dan China sangat berpengaruh di kawasan, semoga kedua negara dapat meningkatkan kerja sama untuk membentuk rasa saling  percaya antar negara kawasan," kata Liu.

Akhir tahun lalu AS menambah jumlah pasukannya di pangkalan militer Darwin, Australia. Penambahan pasukan juga sesuai dengan kebijakan baru militer AS tahun 2012 yang mengubah fokus mereka ke Asia.

Banyak yang mengatakan, kehadiran AS untuk menandingi pengaruh China di Asia terkait isu Laut China Selatan. AS membantahnya dengan mengatakan pasukan mereka di Darwin bertugas untuk penanganan bencana dan berbagai pelatihan tanggap bencana lainnya.

Brasil Tawarkan Kerjasama Industri Alutsista

Jakarta, DMC – Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI , Sjafrie Sjamsoeddin, Kamis (15/3) menerima kunjungan Duta Besar  Brasil untuk Indonesia, Paulo Alberto da Silveira Soares, di Kantor Kemhan, Jakarta.
Saat menerima kunjungan Dubes Brasil tersebut, Wamenhan didampingi Dirjen Strahan, Mayjen TNI Puguh Santoso, Kapusada Baranahan Kemhan, Marsma TNI Asep Sumaruddin dan Kapuskom Publik Kemhan, Brigjen TNI Hartind Asrin.

Pada kesempatan pertemuan itu Dubes Brasil dan Wamenhan membahas peluang peningkatan kerjasama pertahanan khususnya di bidang industri Alutsista. Dubes Brasil mengatakan, maksud kunjungannya kali ini bukan hanya mengarah kepada penawaran produk alutsista terbaru kedirgantaraan ataupun juga kapal perang.

Akan tetapi Pemerintah Brasil juga mengharapkan adanya peningkatan kerjasama industri  melalui produksi bersama pembangunan pesawat terbang dan kapal perang antara industri pertahanan laut dan udara kedua negara.

Wamenhan sangat menyambut baik penawaran pemerintah Brasil dalam hal kerjasama industri pertahanan ini. Khusus terkait industri kedirgantaraan, Wamenhan menjelaskan saat ini Pemerintah Indonesia telah memesan pesawat Sebanyak 16 unit pesawat tempur Super Tucano A29 buatan Industri Embraer Defense System, Brasil.

Wamenhan menambahkan meski telah memesan pesawat-pesawat tersebut, pemerintah Indonesia masih tetap ingin mengembangkan, bukan hanya sebagai user. Namun bisa membuka peluang untuk menjadi distributor produk pesawat ini di wilayah Asia.

Sehubungan dengan itu, Wamenhan mengharapkan jika peluang kerjasama terlebih lagi dalam hal produksi bersama pembangunan alutsista kedirgantaraan antara industri pertahanan dalam negeri PT. Dirgantara Indonesia dengan Industri Embraer Defense System, Brasil dapat diwujudkan. Diharapkan akhir  tahun 2012 kedua negara dapat mewujudkan peluang peningkatan kerjasama industri pertahanan udara. (MAW/SR).

Posisi Penting Indonesia Di Mata Cina

All hands,

Seiring dengan perubahan kebijakan Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik, Cina kini semakin memandang penting posisi Indonesia bagi kepentingannya. Beijing sekarang menjadikan peningkatan hubungan dengan Indonesia semakin penting, termasuk kerjasama di bidang pertahanan. Tentu menjadi pertanyaan, mengapa Jakarta semakin penting di mata Beijing?
Pertama, tentu saja posisi geografis Indonesia. Soal ini tak perlu didiskusikan panjang lebar. Kedua, posisi Indonesia sebagai pemimpin de facto ASEAN. Wajar saja kalau Indonesia menjadi primus inter pares ASEAN, sebab Indonesia adalah negara terbesar dan terpenting di Asia Tenggara. Ketiga, kebijakan politik Indonesia. Tentang yang ketiga ini, singkatnya Cina menganggap penting Indonesia karena berbeda dengan beberapa negara ASEAN lainnya, kebijakan Indonesia tidak selalu membebek Amerika Serikat.
Dengan tiga alasan itu, wajar saja bagi Cina untuk kian memandang penting posisi Indonesia di tengah upaya Amerika Serikat untuk membatasi geraknya. Pertanyaannya adalah, "daftar belanja" apa saja yang sudah disiapkan ole

Konsep Rotasi Kekuatan Militer Amerika Serikat

All hands,
 Menyusul diterbitkannya US Defense Strategic Guidance pada 5 Januari 2012 silam, kini militer Om Sam di antaranya menganut konsep rotasi kekuatan, di samping mempertahankan sebagian pangkalan militernya yang ada. Artinya, ada dua pendekatan yang sekarang ditempuh oleh Washington, yaitu tidak menutup pangkalan militer yang sudah lama eksis di kawasan Asia Pasifik, namun di sisi lain tidak membuka pangkalan militer baru di kawasan ini. Meskipun tak membuka pangkalan militer baru, akan tetapi Amerika Serikat menganut sistem rotasi kekuatan dengan menumpang pada pangkalan militer negara lain.
Sebagai contoh ada rencana penempatan Marinir Amerika Serikat di Darwin mulai 2012, di mana personel Marinir akan menumpang di Barak Robertson militer Angkatan Darat Australia. Setelah berada di sana selama enam bulan, kekuatan Marinir itu akan ditarik ke pangkalan induknya di Amerika Serikat atau di wilayah negara lain dan selanjutnya digantikan oleh kekuatan Marinir lainnya. Begitu pula dengan peningkatan kehadiran kapal perang dan pesawat udara Amerika Serikat di negeri Kaum Aborigin itu, akan menumpang di fasilitas militer Australia.
Melalui pendekatan rotasi, berarti ada penghematan dana oleh Amerika Serikat. Washington tak perlu mengeluarkan dana untuk memelihara pangkalan beserta segenap fasilitas pendukungnya. Amerika Serikat cuma perlu mengeluarkan dana bagi mendukung sustainment kekuatan militernya yang tengah berada di pangkalan militer asing itu, selain tentunya membayar fee kepada pemerintah Australia.

http://damnthetorpedo-2.blogspot.com/
 

Cerita Hidup Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger